Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2011

Sia-Sia Puasa Kita!! Sebuah Renungan Ramadhan Bagi Muslim

Ketika ramadhan bersua, maka boleh jadi semua muslim di dunia menyambutnya dengan gembira. Karena bulan ini bukan saja bulan di mana segala amal ibadah menjadi dilipat gandakan balasannya (baca: pahala), meskipun bagi saya yang terpenting bukan pahalanya, tapi bulan di mana setiap muslim tak peduli status sosialnya harus sama-sama menjalankan dengan khusyuk dan menahan diri dari segala perbuatan-perbuatan tercela, karena seperti kata ustadz-ustadz yang pernah saya dengar ceramahnya mengatakan bahwa puasa termasuk puasa ramadhan harus menjadi perisai agar yang melaksanakan boleh terlepas dan terlindungi dari segala maksud-maksud perbuatan tak terpuji, sehingga mampu mencapai predikat taqwa sebagaimana target dari perintah ibadah puasa itu sendiri.
Mereka tidak tau kapan waktu tiba bisa mengatasi rasa lapar, sementara kita yang puasa mengerti kapan tiba saat berbuka
Mereka tidak tau kapan waktu tiba bisa mengatasi rasa lapar, sementara kita yang puasa mengerti kapan tiba saat berbuka
Saking meriahnya sambutan terhadap bulan ini, maka geliatnya terasa bahkan seminggu sebelum puasa berjalan. Mulai dari stasiun TV yang beralih acara agak islami-islami dikit, masjid-masjid yang dibenahi agar tampak indah dan sedap dipandang, karena maklum pada bulan ini masjid dipastikan bakalan penuh, meskipun cuma dalam hitungan beberapa minggu saja, pedagang di pasar-pasar yang kebanjiran pembeli, pasar juadah yang bermunculan, sampai percetakan yang kebanjiran orderan spanduk dan baliho ucapan selamat berpuasa, jadwal imsakiyah dan sebagainya, apalagi di daerah yang kebetulan bakal melaksanakan pemilihan kepala daerah pasca puasa nanti.
Karena saya bukan ustadz dan ahli agama, maka dalam tulisan ini saya tidak mengomentari macam-macam tentang hikmah puasa ramadhan, apalagi tentang banyaknya keutamaan berpuasa, manfaat berpuasa dan sebagainya, tapi betul-betul sekedar menulis tentang fenomena sosial yang tampak saja jika ramadhan tiba.
Semua tampak serba religius ketika ramadhan tiba, karena memang di bulan ini selain ibadah puasa, maka selalu beriringan dengan intensitas peningkatan ibadah-ibadah yang lain pula, tentunya dengan maksud dan tujuan untuk meningkatkan ketaqwaan.
Coba kita renungkan makna sesungguhnya kita melakukan puasa
Coba kita renungkan makna sesungguhnya kita melakukan puasa
Maka di bulan ini dapat dipastikan angka orang yang membayar zakat cukup tinggi, orang yang berubah dermawan kemudian beramal memberi makan kaum fakir-miskin juga tinggi, acara pengajian tadarusan bersama juga naik drastis. Karena seperti kata ustadz bahwa fungsi puasa juga bukan sekedar menahan haus dan lapar, sebab dengan haus dan lapar itulah seharusnya mengingatkan kaum yang jarang merasakan haus dan lapar untuk ingat kepada kaum yang sering merasakan haus dan lapar.
Sederhananya, bulan ini juga merupakan ajang bagi manusia-manusia yang kebetulan ‘berpunya’ agar tidak ‘pelit’ harta buat berbagi dan mempunyai rasa kepedulian terhadap saudaranya yang miskin. Makanya, seringkali dalam tiap ceramah agama yang sering saya dengar, selalu terungkap hendaknya puasa boleh jadi menyadarkan orang-orang kaya agar tersentuh nuraninya, yaaah…untuk lebih giat beramal-lah, sekali-sekali belajar berzakat, bershadaqah dan berinfaq terlebih-lebih kepada kaum fakir-miskin dan anak-anak yatim yang berada di sekelilingnya.
Sebagai bulan penempaan diri yang bukan saja mengajarkan ibadah ritual tapi juga ibadah sosial, maka seharusnya di bulan ini jangan dijadikan ajang pamer kemewahan dan parade kesombongan. Kenapa saya katakan demikian, karena terkadang saking salah kaprahnya menyambut dan menjalani puasa ramadhan sampai menyambut idul fitri nanti, maka ada sebagian manusia-manusia “berada” tersebut, malah melakukan agenda pamer kemewahan dan parade kesombongan itu.
Seperti mengunjungi dengan niatan menyantuni orang fakir-miskin dan anak yatim, tapi dengan berpakaian yang bermewah-mewahan dan berlebihan, kalau perlu semua perhiasan digunakan, semua pakaian necis dipakai, trus makan sahur dan berbuka dengan mubazir, nanti menjelang idul fitri pesta belanja dan sebagainya.
Selanjutnya kegiatan-kegiatan penyantunan itu cuma sekadar mempertontonkan simbol-simbol relijiusitas agar semata-mata dibilang “dermawan” di mata manusia, yaah seperti jika membantu orang miskin dan anak yatim piatu mesti diliput televisi dan media massa, seakan-akan udah paling shaleh sendiri. Banyak fenomena seperti ini yang tampak berjubel selama ramadhan, trus pasca ramadhan, semua itu lenyap tak berbekas seperti melukis di atas air.
Inilah beda antara puasa “sebagian kaum kaya borjuis” dengan puasa kaum miskin, kalau puasa “sebagian kaum kaya borjuis,” biasanya bekas dan betahnya cuma sebulan, trus selama sebulan itu dijadikan ajang unjuk gigi pamer segala kekayaan itu. Artinya, ternyata puasa itu sudah berubah dan turun status menjadi simbol kemapanan ekonomi belaka. Haus dan laparnya tak menyisakan pembelajaran apa-apa selain haus dan lapar selama sebulan itu.
Kemudian kalau kaum miskin, pada ramadhan ini, terkadang belum tentu juga dapat berpuasa full, karena biasanya mereka harus membanting tenaga jauh lebih keras dan mungkin menganggap dari ramadhan ke ramadhan adalah sesuatu yang biasa saja dan sudah sering mereka hadapi, karena yaa…haus dan laparnya hampir sama saja tiap hari, yang beda mungkin banyaknya orang memberi sedekah, itu saja! Dan…pasca idul fitri nanti yaaa haus dan lapaaar lagi, bahkan mungkin lebih parah haus dan laparnya!
Meskipun sudah berkali-kali diungkapkan, bahwa secara makna berpuasa mestinya menyadarkan kita akan rasa haus dan lapar yang justru tiap hari dialami kalangan fakir miskin, dan sebenarnya pada bulan ini adalah ajang melatih diri untuk menjalani apa yang sama dirasakan kaum fakir-miskin yang serba kekurangan, serta untuk mengembangkan sikap empati dan simpati terhadap derita rakyat miskin. Tapi faktanya tidak demikian memang.
So…alangkah menjadi lebih menarik seandainya semua elemen masyarakat termasuk pemerintah mendiskusikan bagaimana caranya mengkampanyekan agar momentum ramadhan dapat menjadi starting upaya memberdayakan kaum fakir-miskin yang termarjinalkan.
Karena kaum fakir-miskin hadir bukan semata-mata karena takdir, tapi karena ternyata kekuasaan, kebijakan dan kekuasaan modal yang justru semakin memiskinkan, melanggengkan kemiskinan, tidak memberikan akses yang membebaskan dan tidak memihak kepada kaum miskin.
Untuk menghayati penderitaan mereka itulah kita puasa.
Bagaimana kerontangnya kerongkongan tanpa disentuh air saat mendorong
gerobak sampah pemulung di panas terik. Bagaimana lemahnya tubuh disaat
tak dapat sepotong makanan pun sepanjang hari. Dan bisakah hati tidak
megeluh akan semua itu? Bisakah mulut tidak rewel dan cerewet menjalani
semua itu?
Bagaimana jika hal itu berlangsung lama?
Bagaimana jika waktu berbuka itu tidak ada? Yang biasanya sudah ditunggu
hidangan makanan indah bak buah-buahan dalam bayangan sorga? Bagaimana
jika ibadah puasa itu tanpa sahur? Yang tujuannya jelas-jelas
dipersiapkan sebagai energi cadangan untuk menjalani puasa di siang
hari? Lalu saat berbuka akhirnya juga dibayar sekian kali lipat?
Lalu kenapa saya, anda dan kita semua,
terutama para pengkotbah begitu gencarnya menyeru puasa itu wajib bagi
siapa saja? Termasuk mereka yang miskin papa?
Ya itu kan perintah Tuhan.
Perintah Tuhan?
Apakah Tuhan buta realitas?
Oh … kejam nian Tuhan jika demikian.
Jangan-jangan Tuhan mencibirkan manusia yang mengaku beriman dengan
berkacak pinggang dalam kotbah dan ceramah suci mulia. Tapi para
gelandangan tetap kelaparan dan tidur dalam tumpukan sampah. Sementara
kita kaum beriman menikmati apel, juice saat berbuka puasa. Yang kita
yakini sebagai kemenangan menahan nafsu di siang hari.
Bisakah kita merasa malu?
Malu bahwa puasa kita hanya omong kosong?
Puasa kita hanya semacam festival menunda selera pacu yang lebih ganas
menjelang waktu berbuka? Puasa manja yang tidak pernah kurang makan?
Puasa yang sudah dipersiapkan dengan makanan sahur agar tidak tumbang di
siang hari? Puasa yang kita elu-elukan secara kroyokan? Puasa yang
ibarat mobil ambulance lewat? Yang memaksa semua mobil lain minggir
karena mau lewat? Puasa yang memaksa dunia harus mengakui bahwa kita
lagi puasa sambil berteriak: “Jangan ganggu saya, saya lagi puasa.
Jangan makan dekat saya!”
Apakah artinya puasa Ramadhan bagi kaum
miskin papa yang sudah selalu puasa dalam banyak hal? Tidak seperti
kita orang beriman omong kosong yang cuma menahan haus lapar? Yang
dilakukan cuma karena takut ancaman Tuhan dan mengumbar pahala? Dan
lebih-lebih karena takut ancaman sosial karena dinilai sebagai orang
yang tidak bermoral dan tidak beriman?
(Sumber1)
(Sumber2)
Read More >>

Bagaimana Seorang Koruptor Terhalang Masuk di Pintu Surga

Dalam kitab Shahih Muslim, sahabat Abu Umamah al-Bahili RA meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang merampas hak seorang Muslim dengan sumpahnya, Allah akan menetapkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga.” Seorang sahabat kemudian bertanya, “Meskipun yang dirampas itu sesuatu yang kecil, wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “Meskipun hanya sebatang kayu arak.”
pintu surga
Kayu arak adalah kayu yang biasa dipakai untuk bersiwak (gosok gigi), dan bagi orang Arab waktu itu, kayu arak adalah sesuatu yang nilainya sangat rendah. Ini artinya seseorang yang merampas hak orang lain atau mengambil harta secara tidak sah kendati nilai harta itu sangat rendah, di akhirat nanti ia akan dimasukkan ke dalam neraka dan diharamkan masuk surga. Apabila mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak sah satu rupiah saja, Allah akan mengharamkan yang bersangkutan masuk surga, apalagi apabila yang diambil itu miliaran bahkan triliunan rupiah.
Dalam hadis ini, Nabi SAW memang menyebutkan dua hal dalam perampasan itu. Pertama, harta milik Muslim. Dan kedua, merampasnya dengan menggunakan sumpah. Hal ini karena //sabab wurud (background) dari hadis tadi adalah ada dua orang Muslim, masing-masing dari Hadramaut dan Kindah di Yaman yang bersengketa atas sebidang tanah. Orang yang dari Hadramaut berkata, “Wahai Rasulullah, orang Kindah ini merampas tanah warisan dari ayah saya.” Sementara orang yang dari Kindah mengaku bahwa tanah itu adalah miliknya, orang Hadramaut tadi tidak punya hak atas tanah itu. Ketika Nabi SAW menanyakan bukti kepemilikan atas tanah itu kepada orang Hadramaut, dia menjawab tidak punya maka nabi mempersilakan orang Kindah tadi untuk bersumpah.
Orang Hadramaut tadi lalu berkata, “Wahai Rasulullah, orang itu curang, dia tidak peduli dengan sumpahnya, dia juga tidak menjaga diri dari perbuatan haram.” Nabi SAW menjawab, “Bagi kamu tidak ada cara lain kecuali itu tadi. Nabi kemudian menyumpah orang Kindah tadi dan bersabda seperti hadis di atas. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW mengatakan, “Siapa yang merampas tanah dengan cara zalim maka di akhirat nanti Allah akan memurkainya.”
Perbedaan versi redaksi hadis dapat disebabkan oleh perbedaan redaksi yang diucapkan oleh para sahabat. Sementara substansinya adalah sama. Karena itu, seperti halnya ayat Alquran saling menjelaskan, begitu pula hadis satu menjelaskan hadis yang lainnya. Kendati dalam hadis itu disebutkan yang dirampas hartanya itu adalah orang Islam, harta yang dirampas berupa tanah, dan cara merampasnya dengan sumpah palsu, hal itu hanyalah kasus yang melatarbelakangi timbulnya hadis tersebut, bukan merupakan syarat.
Dari hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak halal meskipun hanya satu rupiah, Allah akan mengharamkannya masuk surga. Mudah-mudahan hadis ini dapat mengingatkan kita agar tidak melakukan perbuatan yang menghalangi kita masuk surga.
Secara substansi tindakan korupsi sama dengan merampas harta orang lain dalam hal ini rakyat, karena uang negara berasal dari rakyat dan untuk rakyat, perbuatan manipulatif yang dilakukan oleh para koruptor tak ubahnya sama yang dilakukan oleh para perampok dan maling, hanya saja kemasan yang mereka gunakan begitu sangat rapi dan menawan karena tingkat intelektual yang dimiliki lebih tinggi (Kejahatan kerah putih) sehingga bahasa yang digunakan sebagai pembenaranpun dimengerti oleh masyarakat luas sebagai hal yang maklum dilakukan. Tapi intinya sama saja maling dan merampas uang rakyat.
Semoga saja kita semua dijauhkan dari hal dan perilaku seperti ini, walau sedikit harta yang kita dapatkan adalah berkah dan bukan mengambil hak dari orang lain dengan cara dan bahasa sehalus apapun yang tidak dibenarkan oleh agama.
(Sumber)
Read More >>

Kamis, 04 Agustus 2011

Inilah Kisah Ketika Tuhan Menciptakan Wanita (Sebuah Renungan)

Ketika Tuhan menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya,
“Mengapa begitu lama menciptakan wanita, Tuhan?”
Tuhan menjawab,
“Sudahkah engkau melihat setiap detail yang saya ciptakan untuk wanita?” Lihatlah dua tangannya mampu menjaga banyak anak pada saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan, dan semua itu hanya dengan dua tangan“.

Malaikat menjawab dan takjub,
“Hanya dengan dua tangan? tidak mungkin!
Tuhan menjawab,
“Tidakkah kau tahu, dia juga mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari“.

Malaikat mendekat dan mengamati wanita tersebut dan bertanya,
“Tuhan, kenapa wanita terlihat begitu lelah dan rapuh seolah-olah terlalu banyak beban baginya?”
Tuhan menjawab,
“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, itu adalah air mata.”
“Untuk apa?“, tanya malaikat.

Tuhan melanjutkan,
“Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggaan, serta wanita ini mempunyai kekuatan mempesona laki-laki, ini hanya beberapa kemampuan yang dimiliki wanita. Dia dapat mengatasi beban lebih dari laki-laki, dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri, dia mampu tersenyum saat hatinya menjerit, mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya, dia mampu berdiri melawan ketidakadilan, dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang, dia girang dan bersorak saat kawannya tertawa bahagia, dia begitu bahagia mendengar suara kelahiran. Dia begitu bersedih mendengar berita kesakitan dan kematian, tapi dia mampu mengatasinya. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.”

“Cintanya tanpa syarat. Hanya ada satu yang kurang dari wanita, Dia sering lupa betapa berharganya dia ..”


 
sumber :apasih.com
Read More >>